Dalam Bab Adab, hadits No. 1466, Kitab Bulughul
Maram,
Dari Abi Hurairah,
Ia berkata: Telah bersabda Rosulullah shalallahu’alayhi wa sallam :
“Haq Muslim atas Muslim itu enam: Apabila engkau bertemu dia,
hendaklah engkau beri salam kepadanya; dan apabila ia undang-mu, hendaklah
engkau perkenankan-dia; dan apabila ia minta nasihat, hendaklah engkau
nasihati-dia; dan apabila ia bersin lalu berkataAlhamdulillah, hendaklah
engkau do’akandia; dan apabila ia sakit, hendaklah engkau melawat dia; dan
apabila ia mati, hendaklah engakau turut (jenazah)-nya.” (Riwayat Muslim)
1. Menyebarkan
salam dan menjawabnya.
Menyebarkan salam kepada muslim yang kita kenal maupun
tidak, kemudian menjawab salam yang dilontarkan oleh saudara kita
(hal ini wajib hukumnya). Kemudian perihal salam itu
dilontarkan oleh non-muslim maka bagi kita adalah menjawab dengan seperlunya,
misalnya, dengan menyebut “wa ‘alaika”, atau agar dapat bermuamalah
dengan baik dengan mereka, kita dapat menyampaikan salam dengan menyebutkan, “selamat
pagi, dst.”, selama masih dalam koridor syariah, dimana syariah melarang
kita untuk memberikan keselamatan terhadap orang kafir.
Menjawab salam haruslah lebih baik dari yang disampaikan
oleh saudaranya, misalkan, apabila saudaranya memberi salam dengan, “Assalamu’alaykum”
saja, maka kita menjawabnya dengan yang lebih baik, dengan menyebut, “wa
‘alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuhu”.
2. Jika kita
diundang maka hendaknya kita menghadirinya.
Ada kebiasaan yang menjadi kebiasaan orang “barat” untuk
mengadakan jamuan makan malam dan sebagainya, sehingga muncul istilah Table Manner (Adab
dalam jamuan makan). Sebenarnya jauh sebelum budaya ini diadobsi oleh orang
“barat”, Rosulullah shalallahu’alayhi wa sallam telah
memerintahkan kita untuk membiasakan adab mengundang dan memenuhi undangan,
terutama memerintahan kita untuk memberi makan kaum fakir, berbuat
baik dengan tetangga sekitar dengan berbagi hidangan dan menjamu makan.
3. Penting untuk
selalu nasehat menasehati (intinshah).
Sebagaimana kisah Salman Al Farisi dan Abu
Darda radhiyallahu’anhuma:
Diriwayatkan oleh Abu Juhaifah
Wahb bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :
“Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan
Salman dan Abu Darda’. Suatu ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Ia
melihat Ummu Darda’ dengan pakaian yang kumal, maka ia bertanya,
‘Ada apa denganmu?’
Ummu Darda’ pun menjawab, ‘Saudaramu Abu Darda’ sudah
tidak menginginkan dunia lagi’.
Kemudian datanglah Abu Darda’, maka ia pun membuatkan
makanan. Lalu Abu Darda’ berkata, ‘Makanlah, sesungguhnya aku sedang berpuasa’.
Salman menjawab, ‘Aku tidak akan makan sampai engkau ikut
makan’.
Maka Abu Darda’ ikut makan.
Ketika telah tiba waktu malam Abu Darda’ pun beranjak
hendak melaksanakan shalat malam, namun Salman justru berkata, ‘Tidurlah!’
Maka Abu Darda’ pun tidur. Kemudian ia pun hendak
beranjak untuk shalat malam lagi maka Salman kembali berkata, ‘Tidurlah!’
Ketika akhir malam telah tiba barulah Salman berkata,
‘Sekarang bangunlah!’
Maka keduanya pun shalat bersama-sama. Salman
kemudian menasihati Abu Darda’, ‘Sesungguhnya dalam dirimu terdapat hak Rabbmu,
dan dalam dirimu terdapat pula hak untuk dirimu sendiri, juga terdapat hak bagi
keluargamu, maka tunaikanlah setiap hak bagi masing-masing yang berhak
mendapatkannya.’
Kemudian Abu Darda mendatangi Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam kemudian menyebutkan perihal Salman,
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Sungguh
benar apa yang diperbuat oleh Salman”
(HR. Bukhari 4/209 dalam Al Fath).
Terlihat dari percakapan antara Salman Al Farisi dan Abu
Darda radhiyallahu’anhu, dimana Salman Al Farisi menasehati Abu
Darda atas sikapnya terhadap dunia, Salman Al Farisi mengingatkan akan hak -
hak lainnya yang harus dipenuhi oleh Abu Darda selain kepentingannya terhadap
urusan akhirat.
Kemudian mengingatkan saudara kita untuk bershalawat
kepada Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam. Hal ini penting ketika saudara
kita sedang emosi, dan kewajiban kita untuk mengingatkannya untuk bershalawat
kepada Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam guna meredam emosinya, dengan
berkata “Shollu’alannabiyyihi”.
4. Menjawab
bersin saudara muslimnya yang mengucapkan Alhamdulillah.
Jika ada saudara kita sesama muslim yang bersin kemudian
mengucapkan Alhamdulillah maka jawablah dengan “yaa
harmukallah”. Seorang muslim yang bersin memiliki dua kebaikan:
Dia berdzikir memuji Rabb-nya.
Dia mengajak muslim lainnya untuk berdzikir.
Kemudian selayaknya menjawab doa saudaranya “yaa
harmukallah” dengan “wa yahdikumullah wa yushlih balakum”.
Kebiasaan ini haruslah dibudayakan karena dengan
mendoakan saudara kita merupakan hal yang dapat merekatkan hubungan kita sesama
muslim. Mendoakan merupakan bentuk kecintaan kita terhadap sesama muslim, dan
bentuk suatu kecintaan haruslah dinyatakan, misalkan dengan menyebut, “Uhibbuka
fillah (Aku mencintaimu karena Allah)”, yang kemudian dapat dijawab dengan,
“ahabbakallahu kama ahbabtani fiihi (semoga Allah mencintaimu, sebagaimana kau
mencintaiku karenanya).”
5. Menjenguk
saudara muslimnya yang sakit (‘Iyadah).
Adapun adab dalam menjenguk (‘Iyadatul Maridh)
adalah :
Mendoakan (Ruqiyah) kesembuhan bagi orang yang sakit.
Doa yang di-ijabah antara lain:
Doa orang yang safar (dalam perjalanan),
Doa orang yang sakit,
Doa jelek orangtua kepada anaknya.
Menghibur
Jangan membuat orang yang sakit mengingat penyakitnya, sehingga membuat orang
yang sakit berputus asa dengan kesembuhannya.
Jangan mengganggu orang sakit yang dikunjungi.
Jangan
membuat kegaduhan yang membuat orang yang sakit terbangun dari tidurnya, atau
menjenguk di waktu yang kurang tepat sehingga mempersulit orang yang kita
jenguk.
Tidak memakan suguhan orang yang sakit.
Jika kita membawa
suguhan buat orang yang sakit jangan memakannya, tetapi jika orang yang sakit
memuliakan tamunya (Ikramud Dhoif)dengan memberikan suguhannya maka
tidak ada beban atasnya. Namun kita jangan menyibukkan keluarga yang mengurus
orang yang sakit.
6. Jika
meninggal, maka ada kewajiban kita untuk mengantarnya keliang lahat.
Ada 4 kewajiban dalam mengurus jenazah:
Memandikan,
Mengkafankan,
Menshalatkan,
Menguburkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar