AL-JAMA’AH
A. Ta’rif
1. Ma’na menurut bahasa:
Asal kata:
جَمَعَ – يَجْمَعُ – جَمْعًا / جَمَاعَةً
artinya kumpulan atau himpunan. Jadi menurut bahasa Al-Jama’ah adalah kumpulan atau himpunan tertentu bukan sembarang himpunan atau kumpulan.
2. Ma’na menurut istilah:
Yang dimaksud dengan AL-JAMA’AH adalah JAMA’ATUL MUSLIMIN
sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan
Muslim dari Khudzaifah bin Al-Yaman yang berbunyi:
…تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ…
“… Engkau tetap pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka …”
Adapun yang dimaksud dengan Al-Jama’ah adalah sebagaimana
yang dijelaskan oleh Shahabat Ali bin Abi Thalib, yang berbunyi:
اَلسُّنَّةُ وَاللهِ سُنَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلبِدْعَةُ مَا فَارَقَهَا وَ اَلْجَمَاعَةُ وَاللهِ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلحَقِّ وَإِنْ قَلُّوْا وَ اْلفُرْقَةُ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلبَاطِلِ وَاِنْ كَثَرُوْا
“Demi Allah, sunnah itu adalah sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan bid’ah itu adalah apa-apa yang memperselisihinya. Dan demi Allah,
Al-Jama’ah itu adalah berkumpulnya ahlul haq sekalipun mereka sedikit dan
Firqoh itu adalah berkumpulnya ahlul bathil sekalipun mereka banyak.” (Hamisy
Musnad Imam Ahmad bin Hambal: I/109)
B. PERINTAH MENETAPI AL-JAMA’AH
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(1) وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ
تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ
كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ
بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ
مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ
تَهْتَدُوْنَ {أل عمران:103}
(1) “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah
seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan),
dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan
maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi
bersaudara, padahal kamu dahulu nya telah berada di tepi jurang api Neraka,
tetapi Dia (Allah) menyelamatkan kamu dari padanya; begitulah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS.Ali ‘Imran:103
)
Penjelasan:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada pada tali
Allah seraya ber-JAMA’AH, dan janganlah kamu berfirqah-firqah…” (QS.Ali Imran:103)
Kalimat “Al-Jama’ah” pada ayat ini artinya adalah berjama’ah
(bersama-sama/bersatu padu), karena:
1. Sesuai dengan makna yang diberikan oleh para ahli
Tafsir, di antaranya Abdullah bin Mas’ud, ia menye butkan bahwa yang dimaksud
adalah “Al Jama’ah” (Tafsir Al-Qurthuby:III/159, Tafsir Jaami’ul Bayan:IV/21)
2. Adanya qorinah lafdziyah, yaitu WALA TAFARROQU setelah kalimat JAMI’AN, Ibnu Katsir berkata bahwa yang dimaksud adalah “Allah memerintahkan kepada mereka dengan berjama’ah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh.” (Tafsir Ibnu Katsir:I/189)
3. Az-Zajjaj berkata: “Kalimat JAMI’AN adalah dibaca nashab, karena menjadi HAAL.“ (Tafsir Zaadul Masir:I/433)
Maka artinya secara berjama’ah dalam berpegang teguh pada tali Allah. (Tafsir Abi Suud:II/66)
2. Adanya qorinah lafdziyah, yaitu WALA TAFARROQU setelah kalimat JAMI’AN, Ibnu Katsir berkata bahwa yang dimaksud adalah “Allah memerintahkan kepada mereka dengan berjama’ah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh.” (Tafsir Ibnu Katsir:I/189)
3. Az-Zajjaj berkata: “Kalimat JAMI’AN adalah dibaca nashab, karena menjadi HAAL.“ (Tafsir Zaadul Masir:I/433)
Maka artinya secara berjama’ah dalam berpegang teguh pada tali Allah. (Tafsir Abi Suud:II/66)
Tidak semua kalimat “JAMI’AN” dalam Al-Qur’an artinya
“bersama-sama (berjama’ah / bersatupadu)”, seperti pula tidak semua kalimat
“JAMI’AN” berarti “keseluruhan/semuanya”. Sedikitnya ada empat ayat dalam
Al-Qur’an yang kalimat “JAMI’AN” harus diartikan “bersama-sama
(berjama’ah/bersatu padu)”, yaitu: surat Ali Imran:103, surat An-Nisa:71, surat
An Nur:61 dan surat Al-Hasyr:14
Khudzaifah bin Yaman Radliallahu ‘anhu berkata:
(2) كَانَ
النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ
أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ
أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ
وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ
فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ
مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ
قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ
الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ
نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ
وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ
بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ
وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ
ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ
نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ
جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا
قَذَفُوْهُ فِيهَا قُلْتُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا
قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا
وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي
إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ
جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ
يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ
إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ
الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ
بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ
وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ .
(2) “Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan adalah saya
bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, khawatir kejahatan itu menimpa
diriku,
maka saya bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami
dahulu berada di dalam Jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada
kami dengan kebaikan ini (Islam).
Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan?
Rasulullah menjawab: “Benar!” Saya bertanya: Apakah sesudah kejahatan itu
datang kebaikan? Rasulullah menjawab: “Benar, tetapi di dalamnya ada kekeruhan
(dakhon).” Saya bertanya: “Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab:
“Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku.
(dalam riwayat Muslim) “Kaum yang berperilaku bukan dari
Sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku,
engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah
sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan?”
Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru
yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka,
maka mereka melemparkannya ke dalam Jahannam itu.”
Aku bertanya: “Ya Rasu lullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada
kami.” Rasululah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara
menurut lidah-lidah (bahasa) kita.” Aku bertanya: “Apakah yang eng kau
perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?”
Rasulullah bersabda: “Tetaplah engkau pada Jama’ah
Muslimin dan Imaam mereka !”
Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah
dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau keluar menjauhi
firqoh-firqoh itu semuanya, walaupun engkau sam pai menggigit akar kayu hingga
kematian menjum paimu, engkau tetap demikian.”
(HR.Al-Bukhari,
Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135
dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah:II/475. Lafadz Al-Bukhari).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(3) إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ ولاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ
(3) “Sesungguhnya Allah itu ridho kepada kamu pada tiga
perkara dan benci kepada tiga perkara. Adapun (3 perkara) yang menjadikan Allah
ridho kepada kamu adalah: 1). Hendaklah kamu memper ibadati-Nya dan janganlah
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, 2). Hendaklah kamu ber pegang-teguh
dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berfirqoh-firqoh, 3).
Dan hendaklah kamu senantiasa menasihati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan
kepemim pinan kepadanya dalam urusanmu. Dan Allah membenci kepadamu 3 perkara;
1). Dikatakan mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya),
2). Menghambur-hamburkan harta benda, 3). Banyak bertanya (yang tidak ber
faidah).” (HR Ahmad, Musnad Imam Ahmad dalam Musnad Abu Hurairah, Muslim,
Shahih Muslim: II/6. Lafadz Ahmad)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(4) أَنَا أّمُرُكْم بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ : بِاْلجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ الْهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ اْلجَمَاعَةِ قِيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَى اَنْ يَرْجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى اْلجَاهِلِيَّةِ فَهُوَ مِنْ جُثَاءِ جَهَنَّمَ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ اِنْ صَامَ وَصَلَّى ، قَالَ وَاِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ فَادْعُوا اْلمُسْلِمِيْنَ بِمَا سَمَّاهُمُ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
(4) “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (mus limin)
lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu;
berjama’ah, mendengar, thaat, hijrah dan jihad fie sabilillah. Barangsiapa yang
keluar dari Al Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam
dari lehernya sampai ia kembali bertaubat. Dan barang siapa yang menyeru dengan
seruan Jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam
Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasu lullah, jika ia shaum dan shalat?”
Rasul bersabda: “Sekalipun ia shaum dan shalat dan mengaku dirinya seorang
muslim, maka panggillah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang Allah
telah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza
wa jalla.” (HR.Ahmad bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad
Ahmad:IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa’a fi
matsalis Shalati wa shiyami wa shodaqoti:V/148-149 No.2263.
Lafadz Ahmad)
Umar bin Al-Khattab berkata:
(5) إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلاَكًا لَهُ وَلَهُمْ
(5) “Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan
berjama’ah, dan tidak ada Jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada
kepe mimpinan kecuali dengan ditaati, maka barang siapa yang kaum itu
mengangkatnya sebagai pimpinan atas dasar kefahaman, maka kesejahte raan
baginya dan bagi kaum tersebut tetapi barangsiapa yang kaum itu mengangkatnya
bukan atas dasar kefahaman, maka kerusakan baginya dan bagi mereka.” (HR.Ad-Darimi Sunan
Ad-Darimi dalam bab Dzihabul ‘ilmi: I/79)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(6)… فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ اْلقَاصِيَةِ
(6) “…maka wajib atas kamu berjama’ah, karena
sesungguhnya serigala itu makan kambing yang sendirian.” (HR.Abu Dawud
dari Abi Darda, Sunan Abi Daud dalam Kitabus Shalah: I/150 No.547)
C. Rahmat Allah beserta Orang yang Berjama’ah
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(7) وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ {الشورى:8}
(7) “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan
mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya
ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang
pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.” (QS.Asy-Syuura:8)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(8) وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ {هود:118-199}
(8) “Jika Tuhanmu menghendaki tentu Dia menja dikan
manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali
orang orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu (keputu san-Nya) telah diputuskan.
Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang
durhaka) semuanya.” (QS.Hud:118-119)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(9) اَلْجَمَاعَةُ
رَحْمَةٌ وَ اْلفُرْقَةُ عَذَابٌ
(9) “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari
Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsush Shohihah No.667)
D. Perpecahan itu Adzab
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(10) قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ{الأنعام:6}
(10) “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan
adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan
kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada
sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhati kanlah, betapa Kami
mendatangkan kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya).” (QS.Al-An’am:65)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(11) إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ{الأنعام:159}
(11) “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah
agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu
terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah,
kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka
perbuat.” (QS.Al-An’am:159)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(12) وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِي. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ{المؤمنون:52،53،54}
(12) “Dan sesungguhnya (agama) tauhid ini, adalah agama
kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada
KU. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka
menjadi terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa
bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkan lah
mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS.Al-Mu’minun:52,53,
54)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(13) اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ اْلفُرْقَةُ عَذَابٌ
(13) “Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Ahaditsus Shohihah No.667)
Mu’adz bin Jabal Radliallahu ‘anhu berkata:
(14) صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا صَلاَةً فَأَطَالَ فِيهَا فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَطَلْتَ الْيَوْمَ الصّلاَةَ قَالَ إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاَةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ سَأَلْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لأُمَّتِي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ وَرَدَّ عَلَيَّ وَاحِدَةً سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَهُمْ غَرَقًا فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَرَدَّهَا عَلَيَّ
(14) “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam melaksanakan shalat lalu beliau memanjangkannya, maka ketika telah
selesai kami (para sahabat) bertanya: Ya Rasulullah pada hari ini engkau telah
memanjang kan shalatnya.” Beliau menjawab: Sesungguhnya aku telah melaksanakan
shalat dengan penuh suka dan duka, aku memohon kepada Allah Azza wa jalla tiga
hal untuk ummatku, maka Dia memper kenankan yang dua hal dan menolak yang satu
hal, aku memohon agar umatku tidak dikalahkan oleh musuh selain dari mereka
(orang kafir), maka Allah memper kenankannya dan untuk tidak dibinasakan oleh
banjir maka Allah memperkenan kannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar ummatku
tidak ber pecah belah tetapi Dia tidak memperkenan kannya.” (HR.Ibnu Majah,
Sunan Ibnu Majalah dalam bab Maa yakuunu minal fitan: II/464, At-Tirmidzi,
Sunan At-Tirmidzi:IV/409 No.2175. Lafadz Ibnu Majah)
E. Perpecahan itu perilaku orang-orang musyrik
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(15) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ الْمُشْرِكِينَ . مِنْ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُون{الروم:31-32}
(15) “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan
mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada
pada golongan mereka.” (QS.Ar-Rum:31-32)
Yang dimaksud dengan kalimat “Jangan kamu termasuk
orang-orang musyrik” disini adalah jangan menyerupai perbuatan mereka yang suka
memecah belah agama, mengganti, merubah, mengimani sebahagian dan mengingkari
sebahagian yang lain. (Tafsir Ibnu Katsir:III/418) Maka ayat ini memperingatkan
kepada kaum muslimin supaya tidak mengikuti firqoh-firqoh seperti orang musyrik
sebab telah jelas bahwa semuanya dalam kesesatan yang nyata (Tafsir Abi
Su’ud:VII/61).
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(16) شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ{الشورى:13}
(16) “Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang
Ad-Dien, apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
(Allah) wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim,
Musa dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah Ad-Dien dan janganlah kamu ber pecah-belah di
tentangnya.” Berat bagi musyrikin menerima apa yang engkau serukan kepada
mereka itu. Allah menarik kepada Ad-Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petun juk kepada (Ad-Dien)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS.Asy-Syura:13)
F. Al-Jama’ah itu Hizbullah
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(17) إِنَّمَا وَلِيُّكُمْ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ . وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ{المائدة:55،56}
(17) “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang orang
yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah
itulah yang pasti menang.” (QS.Al-Maidah:55-56)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
(18) لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمْ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَ نْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْمُفْلِحُونَ{المجادلة:22}
(18) “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah
orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padanya. Dan
dimasukkannya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun merasa
puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS.Al-Mujadalah:22)
G. Ancaman meninggalkan Al-Jama’ah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(19) مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ
(19) “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan
diri dari Al-Jama’ah, maka ia mati laksana kematiannya orang Jahiliyah dan
barangsiapa yang berperang di bawah bendera keashobiahan (kesukuan) dia marah
karena kesukuannya atau mengajak kepada keashobiahan dan menolong karena
keashobiyahannya lalu dia terbunuh maka kematiannya laksana kematian Jahiliyah
dan barangsiapa yang keluar dari umatku kemudian memusuhi orang-orang yang baik
maupun yang fajir di antara umatku dan tidak mengecualikan orang-orang yang
beriman dari mereka dan tidak menepati kepada orang yang diberi janji yang ia
telah berjanji kepadanya maka dia bukan dari umatku dan aku bukan dari golongan
mereka.” (HR.Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim dalam Kitabul Imaaroh:
II/135, Ahmad, Musnad Imam Ahmad bin Hambal:I/70, Ad-Darimi, Sunan
Ad-Darimi:II/241, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud:IV/241. Lafadz Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(20) لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
(20) “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena
tiga hal; orang yang telah kawin yang berzina, dan orang yang meninggalkan
agamanya yaitu orang yang memisahkan diri dari Jama’ah.” (HR.Muslim dari
Abdullah, Shahih Muslim dalam Kitabul Qosamah wal muharibin: II/40, Ahmad,
Musnad Ahmad: I/382, Abu Daud, Sunan Abu Daud: IV/126, Ibnu Majah, Sunan Ibnu
Majah: II/847, An-Nasai Sunan An-Nasa’i: VII/90, At-Tirmidzi, Sunan
At-Tirmidzi:IV/12 dan Ad-Darimi Sunan Ad-Darimi:II/218. Lafadz Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(21) إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ رَأَيْتُمُوهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ أَوْ يُرِيدُ يُفَرِّقُ أَمْرَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَائِنًا مَنْ كَانَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ
(21) “Sesungguhnya akan ada setelahku kerusakan dan
keburukan maka barangsiapa yang kamu melihatnya telah memisahkan diri dari Al
Jama’ah atau hendak memecah belah urusan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di mana dia berada maka bunuhlah ia. Maka sesung guhnya tangan Allah itu
beserta Al-Jama’ah dan sesungguhnya syaitan itu akan sangat dekat bersama orang
yang memisahkan diri dari Al Jama’ah.” (HR.An-Nasai,
Sunan An-Nasai dalam Kitab Tahrimud Dam:VII/92, Muslim, Shahih Muslim:II/136
dan Ahmad, Fathurrobbani:XXIII/8. Lafadz An-Nasa’i)
H. Pahala menetapi Al-Jama’ah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(22) نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
(22) “Allah akan memberikan wajah yang cerah kepada
seseorang yang mendengar sabdaku lalu memperhatikannya dan menghafalnya serta
me nyampaikannya. Maka bisa jadi seseorang me nyampaikan ilu kepada orang yang
lebih faham. Tiga hal yang hati seseorang muslim tidak akan dengki atasnya; 1)
Ikhlas dalam beramal, 2) Mena sehati Imaamul Muslimin dan 3) Menetapi Jama’ah
Muslimin. Maka sesungguhnya do’a mereka itu mengikuti dari belakang mereka.” (HR.At-Tirmidzi dari
Abdullah bin Mas’ud, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul iIlmi:V/33 No.2656,
Ad-Darimi, Sunan Ad-Dirimi:I/76)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(23) أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ ا ْلأ هْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لاَ يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلاَ مَفْصِلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ
(23) “Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebe lum kamu
dari ahli kitab itu berpecah belah men jadi tujuh puluh dua golongan dan
sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan,
yang tujuh puluh dua golongan di dalam neraka sedang yang satu di dalam surga,
yaitu Al-Jama’ah dan sesungguhnya akan ada dari ummatku beberapa kaum yang
dijangkiti oleh hawa nafsu sebagaimana menja larnya penyakit anjing gila dengan
orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya,
melainkan dijangkitinya.” (HR. Abu Dawud dari Muawiyah bin Abi Sofyan, Sunan
Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah:IV/198 No.4597, Ahmad, Musnad Ahmad:III/145-IV/102 Lafadz
Abu Dawud)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(24) افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ
(24) “Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh
puluh satu golongan, satu golongan masuk syurga sedangkan yang tujuh puluh
golongan masuk ke dalam neraka, dan orang orang Nasrani berpecah belah menjadi
tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk ke dalam neraka sedangkan yang
satu golongan masuk ke dalam syurga. Demi dzat yang diri Muhammad ada di genggaman-Nya
niscaya umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, maka yang
satu golongan masuk ke dalam surga sedang yang tujuh puluh dua golongan masuk
ke dalam neraka, ditanyakan kepada Rasulullah: Siapakah mereka itu (golongan
yang masuk ke dalam syurga) ? Beliau bersabda: “Al-Jama’ah.” (HR.Ibnu Majah
dari Auf bin Malik, Sunan Ibnu Majah dalam Kitabul Fitan:II/479 dan
At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:V/2641, Lafadz Ibnu Majah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(25) أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلاَ يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلاَ يُسْتَشْهَدُ أَلاَلاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلاَّكَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ اْلإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ
(25) “Aku wasiatkan kepada kamu untuk berbuat baik kepada
para sahabatku, kemudian kepada generasi yang setelah mereka dan kemudian pada
generasi yang setelahnya, kemudian setelah itu akan tersebar kebohongan
sehingga seseorang akan bersumpah sedangkan dia tidak diminta untuk bersumpah
dan akan memberikan kesaksian sedangkan ia tidak diminta kesaksiannya. Ingatlah
tidaklah sekali-kali seorang laki-laki bersepi sepian dengan seorang wanita
(yang bukan muhrimnya), kecuali yang ketiganya itu syaitan, maka wajib atas
kamu berjama’ah dan jauhilah berfirqoh-firqoh karena sesungguhnya syaitan itu
berserta orang yang sendirian dan dia akan menjauh dari dua orang. Barangsiapa
yang menginginkan bangunan di syurga, maka hendak lah menetapi Al-Jama’ah dan
barangsiapa yang kebaikannya menjadikan ia gembira dan kejelek kannya
menjadikan ia sedih maka itulah tanda orang yang beriman.” (HR.At-Tirmidzi dari
Umar bin Al-Khattab, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul Fitan:IV/404 No.2165 dan Ahmad, Musnad Ahmad:I/18, Lafadz At-Tirmdzi)
I. Periodisasi Masa Kekhilafahan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(26) تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
(26) ”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu
sekalian, adanya atas kehendaki Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia
menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh
jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehandak Allah.
Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk
mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon),
adanya atas kehendak Allah. Kemu- dian Allah mengangkatnya apabila Ia meng
hendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyom bong
(Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemu dian Allah mengangkatnya,
apabila Ia menghen daki untuk mengang katnya. Kemudian adalah masa Khilafah
yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian
beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/273,
Al-Baihaqi, Misykatul Mashobih hal 461. Lafadz Ahmad).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(27) الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ
(27) “Masa pada ummatku itu tiga puluh tahun kemudian
setelah itu masa kerajaan. Kemudian Safinah berkata kepadaku: peganglah kekhali
fahan Abu Bakar, kekhalifahan Umar, kekhali fahan Utsman dan kekhalifahan Ali.
Maka aku dapatinya masa kekhalifahan itu tiga puluh tahun, Said berkata: “Saya
bertanya kepadanya, sesung guhnya Bani Umayyah mengaku bahwa masa kekhalifahan
itu ada pada mereka.” Ia berkata: “Banu Zurqo telah berdusta bahkan mereka itu
para raja dari seburuk-buruk raja.” (HR.At Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi dalam Kitabul
Fitan:IV/436 No.2226dan Abu Dawud, Sunan Abu Dawud:IV/211 No.4646,
Lafadz At-Tirmidzi)