Kamis, 27 November 2014

Antara JIHAD dan MENUNTUT ILMU


Jihad disini maksudnya adalah jihad membela Agama Allah dan menuntut ilmu disini adalah menuntut ilmu Agama. Jihad dan menuntut ilmu adalah Dua hal yang tidak dapat di pisahkan sebagai mana firman Allah

“Tidak sepatutnya orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa kelompok yang memperdalam pengetahuan agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila telah kembali kepada mereka supaya menjaga diri’’(QS. At Taubah:122

Menurut Ibnu Hatim dari Ikrimah Ayat di atas turun setelah Surat At taubah : 39 “jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang sangat pedih” Ada beberapa orang yang jauh di kota tidak ikut berperang, Berkatalah orang-orang mukmin, “celakalah orang-orang kampung itu karena ada orang yang meninggalkan diri tidak turut berjihad bersama Rasulullah”,Maka ayat diatas adalah membenarkan orang-orang yang meninggalkan diri  dari berjihad untuk memperdalam ilmu dan mengajarkan kepada kaumnya.

Jadi ketika sebagian dari kita pergi berjihad maka sebagian yang lainlah menuntut ilmu, salah satu tujuan menuntut ilmu d sini yaitu untuk memberi peringatan atau mengajar kepada orang-orang yang berjihad, karena sangatlah mustahil orang yang berjihad ia bisa memperdalam ilmu agama di saat segala kondisi yang tidak memungkinkan. Begitu pula ketika kita hanya menuntut ilmu sahaja di saat betapa banyak kerusakan, kedzaliman yang terjadi karena kita membiarkanya dan tidak berjihad melawan segala permasalahan yang terjadi maka salah satu efeknya adalah proses menuntut ilmu akan menjadi kesulitan dan begitu pula kedzaliman akan terus meluas, maka di sinilah kita sangat membutuhkan para mujahid bukan orang yang bisanya hanya diam dan duduk saja dan menunggu keajaiban datang.

Namun jangan bersedih ketika kita tidak bisa berangkat berjihad namun hanya bisa memperdalam ilmu, ketahuilah bahwa dengan memperdalam ilmu Agama, kita akan mendapatkan apa yang di dapat orang yang pergi berjihad, Orang yang menuntut ilmu karena Allah jika gugur maka ia Sahid, jikalau hidup maka kemuliaanlah yang di dapat karena ilmunya, yang membedakan Sahidnya antara penuntut ilmu dan orang yang berjihad adalah penuntut ilmu hanya Sahid ketika di akherat, sedangkan di dunia orang memandang dia hanya mati biasa, sedangkan sahidnya orang yang berjihad akan ia peroleh di dunia dan di akherat,

Antara jihad dan penuntut ilmu adalah hal yang tidak bisa di pisahkan dan menjadi dua unsur pokok dalam dakwah, karena dengan keduanya akan saling melengkapi, Dengan ilmu dakwah akan berjalan,dengan jihad aktivitas dakwah akan terlindungi,
Jadi antara orang yang jihad dan menuntut ilmu maka ia mempunyai derajat yang sama bahkan derajatnya paling dekat dengan kenabian,
Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“manusia yang paling dekat dengan derajat kenabian adalah ahli ilmudan ahli jihad,adapun ahli ilmu mereka menunjukan manusia apa yang di bawa oleh para Rasull sedang alhi jihad mereka berjihad dengan pedang-pedang mereka membela apa yang di bawa oleh Rasull”(H.R Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas)

Sepeti yang kita ketahui ketika Allah hendak menjadikan Khalifah di muka bumi sebagaimana surat Al Baqarah Ayat 30-34, salah satu yang membedakan kemuliaan antara malaikat dan manusia Adalah ilmu, Allah telah mengajarkan ilmu dan nama-nama segala sesuatu kepada Manusia (Adam), setelah manusia dan malaikat di tes, ternyata malaikat berkata :”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” maka seketika itu Allah menyuruh untuk bersujud kepada Adam,sujud di sini adalah sujud penghormatan karena ilmu yang dimiliki oleh Adam, ingat bukan sujud beribadah

Ketika kita menuntut ilmu di situlah sebagai sarana bagi Allah untuk memberikan kebaikan kepada hambanya sebagaimana Hadits berikut

Dari Mu’awiyah ra berkata, Rasulullah shallallhu ‘alahi wa sallam bersabda ”barang siapa yang di kehendaki kebaikan oleh Allah, dia akan di beri pemahaman (ilmu) tentang Agama”(Muttafaq alaih)


Dalam islam tidaklah mengenl Militerisme semua umat islam adalah Mujahid dan  Untuk mengatur siapa  yang maju ke medan Jihad dan siapa yang harus tinggal di garis belakang untuk tetap menekuni Agama maka yang berhak mengatur semua itu hanyalah Imamul Muslimin/Khalifah. Maka dari sinilah betapa pentingnya kita hidup di bawah seorang Khalifah/Imamul Muslimin untuk mengatur persoalan umat.
sepeti yang kita lihat sekarang ini betapa kocar-kacirnya dan betapa lemahnya umat islam semua itu terjadi karena tidak adanya pemimpin umat islam itu sendiri,

maka pesan penulis di sini adalah untuk membangun kekuatan dan bersatunya umat islam maka umat islam harus berjamaah dan imamah di wadah yang sudah di tetapkan oleh Allah yaitu Jama’ah Muslimin, Jama’ah Muslimin wadah persatuan umat islam.

wallahu ‘alam 

Rabu, 26 November 2014

AL JAMA'AH dan AS SAWADUL A'ZHAM




Tatkala bingung menghadapi perbedaan ideologi dan ajaran Islam yang berkembang di masyarakat, sebagian kita berpegangan pada prinsip ‘ikut saja dengan kebanyakan orang‘....

Akibat fatalnya :

Ajaran agama yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah serta pemahaman yang benar, dianggap salah semata-mata karena tidak diamalkan oleh kebanyakan orang....

Diantara alasan mereka yang berpendapat demikian adalah hadits-hadits tentang golongan yang selamat diistilahkan dengan Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham. Dan memang sekilas nampak bahwa Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham berarti sekumpulan orang yang jumlahnya sangat banyak...

Namun benarkah demikian maksudnya...???

Apakah yang ada pada kebanyakan orang itu pasti lebih benar...???

___________________________________


Kebenaran Tidak Memandang Jumlah

Sebelum membahas makna Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham, perlu diketahui bahwa terlalu banyak dalil dari Qur’an dan Sunnah yang memberikan faedah kepada kita bahwa kebenaran tidak memandang jumlah.
Kebenaran adalah kebenaran walaupun bersendirian...
Kesalahan adalah kesalahan walaupun didukung banyak orang....
Bahkan Allah menyatakan bahwa keadaan umum manusia adalah berada dalam kesesatan, kejahilan dan jauh dari iman yang benar:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am: 116)

Allah Ta’ala berfirman:

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Yusuf: 40)

Allah Ta’ala berfirman:

“ Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (QS. Ar Ra’du: 1)

Allah Ta’ala berfirman:

Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS. Yusuf: 103)

Bahkan ada Nabi Allah yang tidak memiliki pengikut, ada yang hanya satu orang, ada pula yang hanya sekelompok orang. Andai yang sedikit itu pasti sesat, apakah mereka tidak memiliki pengikut atau menjadi minoritas karena mengajarkan kesesatan?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda bahwa Islam itu awalnya asing, dan akan kembali menjadi asing kelak. Dan beliau memuji orang-orang yang masih mengamalkan ajaran Islam ketika itu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka pohon tuba di surga bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim no.145)


Nah, apakah Islam itu asing ketika mayoritas manusia mengamalkan ajaran Islam...??? Bahkan yang minoritas ketika itu adalah yang dipuji oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah (wafat 187 H) berkata:

“Janganlah engkau mengangap buruk jalan-jalan kebenaran karena sedikit orang yang menjalaninya. Dan jangan pula terpedaya oleh banyaknya orang-orang yang binasa” (Dinukil dari Al Adabusy Syar’iyyah 1/163)

Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata:

“Seorang manusia hendaknya tidak terpedaya dengan banyaknya orang yang melakukan hal-hal terlarang, yaitu orang-orang yang tidak menjaga adab-adab ini” (Dinukil dari Al Adabusy Syar’iyyah 1/163)

____________________________________

Hadits-Hadits Tentang Al Jama’ah
Untuk memahami makna Al Jama’ah, mari kita simak beberapa hadits yang memuatnya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah” (HR. Abu Daud 4597, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Al Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al Jama’ah” (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672, dishahihkan Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shahih 3621)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah” (HR. Bukhari no.7054,7143, Muslim no.1848, 1849)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Demi Allah, darah seorang yang bersyahadat tidak lah halal kecuali karena tiga sebab: keluar dari Islam atau keluar dari Al Jama’ah, orang tua yang berzina dan membunuh” (HR. Muslim no.1676)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari Al Jama’ah, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya” (HR Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 1/325. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 6410)

_________________________________

Makna Al Jama’ah
Secara bahasa, makna Al Jama’ah adalah:

“Al Jama’ah artinya perkumpulan, lawan dari kekelompokan. Walau terkadang Al Jama’ah juga artinya sebuah kaum dimana orang-orang berkumpul” (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah, 3/157)

Namun dalam terminologi syar’i, para ulama menjabarkan banyak definisi sesuai dengan banyaknya hadits yang memuat istilah tersebut.
Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:

Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri

Dalam riwayat lain:

Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia telah keluar dari Al Jama’ah. Dan Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala” (Dinukil dariIghatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)

Ibnu Hajar Al Asqalani (wafat 852H) menukil penjelasan Imam Ath Thabari (wafat 310H) menjabarkan makna-makna dari Al Jama’ah:

“Ath Thabari berkata, permasalahan ini (wajibnya berpegang pada Al Jama’ah) dan makna Al Jama’ah, diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib.

Dan makna Al Jama’ah adalah:
as sawadul a’zham. Kemudian Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab: “hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan“.
sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para sahabat, tidak termasuk orang setelah mereka.
sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para ulama. Karena Allah telah menjadikan mereka hujjah bagi para hamba. Para hamba meneladani mereka dalam perkara agama.

Ath Thabari lalu berkata, yang benar, makna Al Jama’ah dalam hadits-hadits perintah berpegang pada Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada dalam ketaatan, mereka berkumpul dalam kepemimpinan. Barangsiapa yang mengingkari baiat terhadap pemimpinnya (baca: merasa tidak berkewajiban untuk mentaati pemimpin sah kaum muslimin, ed), maka ia telah keluar dari Al Jama’ah” (Fathul Baari, 13/37)

Imam Asy Syathibi (wafat 790H) juga merinci makna-makna dari Al Jama’ah:


“Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat:
As sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena diasumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”
Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma, ed).
Para sahabat nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu:ما أنا عليه وأصحابي
Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku
Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”
Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.

Imam Asy Syathibi kemudian menyimpulkan:

“Kesimpulannya, Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)

Al Munawi (wafat 1031H) menukil perkataan Syihabuddin Abu Syaamah (wafat 665H) dan Al Baihaqi (wafat 458H) mengenai makna Al Jama’ah:

“Abu Syamah berkata, ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya. Maksud Abu Syaamah adalah bahwa kebenaran itu adalah mengikuti pemahaman para sahabat Nabi, bukan melihat banyak jumlah, ini pada orang-orang yang datang setelah mereka. Al Baihaqi berkata, ketika Al Jama’ah (baca: kaum muslimin saat ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al Jama’ah” (Faidul Qadhir, 4/99)

Jika kita telah memahami penjelasan para ulama mengenai makna Al Jama’ah, walaupun definisi mereka berbeda, namun pokok maknanya sama. Bahwa yang dimaksud dengan Al Jama’ah adalah umat Islam yang berkumpul bersama imam mujtahid dan para ulama mereka yang senantiasa meneladani ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi dan mereka berbaiat pada penguasa muslim yang sah serta tidak memberontak kepadanya.

________________________________________

Hadits-Hadits Tentang As Sawadul A’zham
Untuk memahami makna as sawaadul a’zham, mari kita simak beberapa hadits yang memuatnya:

Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as sawaadul a’zham. Barangsiapa yang menyelisihinya akan terasing di neraka

Dalam riwayat lain:

Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatanMaka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as sawaadul a’zham yaitu al haq dan ahlul haq” (HR. Ibnu Majah 3950, hadits hasan dengan banyaknya jalan kecuali tambahan من شذ شذ إلى النار sebagaimana dikatakan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1331)

Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut. Lalu diperlihatkan kepadaku sekelompok hitam yang sangat besar, aku mengira itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘itulah Nabi Musa Shallallhu’alaihi Wasallam dan kaumnya’. Dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke arah ufuk’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan lagi, ‘Lihat juga ke arah ufuk yang lain’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu dan diantara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab’.” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

 ______________________________


Makna As Sawadul A’zham
As sawad artinya sesuatu yang berwarna hitam, dalam bentuk plural. Al A’zham artinya besar, agung, banyak. Sehingga as sawaadul a’zham secara bahasa artinya sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak. Menggambarkan orang-orang yang sangat banyak karena rambut mereka umumnya hitam.

Dalam terminologi syar’i, kita telah dapati bahwa as sawaadul a’zham itu semakna dengan Al Jama’ah. Sebagaimana penjelasan Ath Thabari di atas: “…Dan makna Al Jama’ah adalahas sawadul a’zham.

Kemudian Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab: hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan.. ” (Fathul Baari, 13/37)

Maka makna as sawaadul a’zham mencakup seluruh makna dari Al Jama’ah. Dipertegas lagi dengan beberapa penjelasan lain dari para sahabat dan para ulama mengenai makna as sawaadul a’zham berikut ini.

Sahabat Nabi, Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu’anhu, berkata :

Berpeganglah kepada as sawadul a’zham. Lalu ada yang bertanya, siapa as sawadul a’zham itu? Lalu Abu Umamah membaca ayat dalam surat An Nur:

(HR. Ahmad no.19351. Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 5/220)
Ayat tersebut berbunyi:

Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS. An Nuur: 54)

Abu Umamah mengisyaratkan bahwa makna as sawadul a’zham adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, atau dengan kata lain, pengikut kebenaran....

Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy (wafat 242H) berkata:

“Berpeganglah pada as sawaadul a’zham. Orang-orang bertanya, siapa as sawaadul a’zham itu? Beliau (Muhammad bin Aslam) menjawab, ia adalah seorang atau dua orang yang berilmu, yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallamdan mengikuti jalannya. Bukanlah as sawaadul a’zham itu mayoritas kaum muslimin secara mutlak. Barangsiapa berpegang pada seorang atau dua orang tadi dan mengikutinya, maka ia adalah Al Jama’ah. Dan barangsiapa yang menyelisihi mereka, ia telah menyelisihi ahlul jama’ah” (Thabaqat Al Kubra Lisy Sya’rani, 1/54)

Muhammad bin Aslam sendiri oleh ulama sezamannya, Ishaq bin Rahawaih (wafat 238H), dikatakan sebagai as sawaadul a’zham:

“Ada seorang yang bertanya, wahai Abu Ya’qub (Ishaq bin Rahawaih), siapa as sawadul a’zham itu? Beliau menjawab: Muhammad bin Aslam, murid-muridnya dan para pengikutinya. Kemudian beliau berkata: Aku tidak pernah mendengar orang yang alim sejak 500 tahun yang lebih berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selain Muhammad bin Aslam” (Siyar A’lamin Nubala, 9/540)

Abdullah Bin Mubarak (wafat 181H) ditanya as sawaadul a’zham:

“Seorang lelaki bertanya kepada Ibnul Mubarak, wahai Abu Abdirrahman siapa as sawadul a’zham itu? Beliau menjawab, Abu Hamzah As Sakuni” (Hilyatul Aulia, 9/238)

Dari sini kita tahu bahwa as sawaadul a’zham dalam istilah syar’i itu tidak harus berjumlah banyak. Dan jelaslah juga bagi kita ternyata as sawaadul a’zham adalah Al Jama’ah dan bukanlah ‘kebanyakan orang’ secara mutlak.  

As sawaadul a’zham adalah orang-orang yang taat kepada Allah, mengikuti sunnah NabiShallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat Nabi, baik jumlah mereka banyak maupun sedikit....

===== > Bahkan Ishaq bin Rahawaih, guru dari Imam Al Bukhari ini, mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengira bahwa as sawaadul a’zham adalah mayoritas orang secara mutlak :

Jika engkau tanyakan kepada orang-orang bodoh siapa itu as sawadul a’zham, niscaya mereka akan menjawab: mayoritas manusia. Mereka tidak tahu bahwa Al Jama’ah itu adalah orang alim yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan jalannya. Barangsiapa yang bersama orang alim tersebut dan mengikutinya, ialah Al Jama’ah, Dan yang menyelisihinya, ia meninggalkan Al Jama’ah

(Hilyatul Aulia, 9/238)

_________________________________________


Kesimpulan
Al Jama’ah semakna dengan as sawaadul a’zham....,

Yaitu :

Orang-orang yang berkumpul bersama imam mujtahid dan para ulama mereka yang berpegang teguh pada ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi, mereka berbaiat pada penguasa muslim yang sah serta tidak memberontak kepadanya, baik jumlah mereka banyak maupun sedikit......

Oleh karena itu ‘kebanyakan orang’ secara mutlak bukanlah as sawaadul a’zham....,

Sehingga...., tidak benarlah orang-orang yang hanya ikut ‘kebanyakan orang’ dalam beragama....

Bagaimana halnya jika prinsip demikian diterapkan di masyarakat yang bobrok, mayoritasnya meninggalkan shalat misalnya....??

Apakah meninggalkan shalat menjadi hal yang biasa dan dibenarkan...???

Jika masyarakatnya gemar berzina, bagaimana mungkin ahluz zina itu disebut as sawadul a’zham yang merupakan ahlul haq...??

Jika masyarakatnya mayoritas gemar berbuat bid’ah, maka bagaimana mungkin as sawaadul a’zham adalah ahlul bid’ah...???

Dengan penjelasan para ulama di atas, maka mayoritas penduduk sebuah negeri secara mutlak pun bukan as sawadul ‘azham. Apalagi sekedar organisasi massa, partai, jama’ah dakwah, thariqah, mengklaim diri mereka sebagai as sawadul a’zham atau Al Jama’ah. Demi Allah, bukan demikian.

Hendaknya setiap muslim bersatu dalam kebenaran....., berkumpul dalam petunjuk para ulama yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat Nabi Radhiallahu’anhum tanpa dibatasi oleh sikap fanatik golongan...., tidak terbatas oleh keanggotaan ormas, partai atau jama’ah dakwah.....

Allah Ta’ala berfirman :

Bersatulah dengan tali Allah dan janganlah berpecah-belah” (QS. Al Imran: 103)



Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan as sawadul a’zham atau menjadikan kita orang-orang yang berpegang teguh kepadanya...

Selasa, 25 November 2014

Wahai Muslimin Kembalilah Kepada Fitrahmu



Fitrah Manusia Adalah Muslim Dan Hidup Dalam Aturan Islam 


  فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّـهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّـهِ ۚ ذٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S Ar Ruum (30):30﴿

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَٱتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (Q.S Ar Ruum (30):31﴿

مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Q.S Ar Ruum (30):32﴿


Telah menjadi fitrah bagi ikan untuk hidup di dalam air, maka ketika ikan keluar dari fitrahnya ia akan menggelepar lalu kemudian mati. Maka sudah menjadi ftrah bagi manusia terlahir sebagai muslim dan hidup di dalam aturan Islam secara bersatu di dalam satu Jama'ah yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya yaitu Jama'ah Muslimin dengan satu pimpinan Imam atau Khalifah dan inilah yang disebut Al-Jama'ah. 

Maka jika kaum muslimin keluar dari fitrahnya, mereka akan ditimpa oleh malapetaka dan bencana serta terlepaslah mereka dari jalan yang lurus dan menghadap Allah dalam keadaan tanpa ikatan Islam serta menghadapi ancaman api neraka. Demikianlah  nasib mereka yang meninggalkan fitrahnya, seperti ikan yang keluar dari air. Hal ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya :

 إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجٰهَدُوا۟ بِأَمْوٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّـهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثٰقٌ ۗ وَٱللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Q.S Al Anfaal (8):72﴿

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِى ٱلْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Q.S Al Anfaal (8):73﴿

Seperti yang dijelaskan oleh Allah pada surah Al-Anfal ayat ke 72 di atas, kaum muslimin pada masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam hidup di dalam fitrah mereka di bawah kepemimpinan Rasulullah shollallahu wasallam yang menunjukan bahwa mereka semua berada dalam satu ikatan kepemimpinan dan itulah yang disebut Jama'ah Musllimin sehingga mereka dapat saling tolong menolong diantara sesama mereka.

Maka saat ini, ketika kaum muslimin seluruhnya telah berpecah belah di dalam agama dan hidup secara bergolong-golongan tanpa adanya satu ikatan bae'at terhadap satu Imam atau Khalifah yang didengar dan ditaati oleh seluruh muslimin dimanapun mereka berada, siapapun mereka dan apapun bangsa dan bahasanya, sungguh mereka telah keluar dari fitrahnya sehingga ahirnya malapetaka menimpa kepada muslimin seluruhnya, di manapun mereka berada dan apapun bangsanya serta diperangi oleh orang-orang kafir yang telah bersatu untuk memerangi kita semua sesuai dengan penjelasan pada surah Al-Anfal ayat ke 73 di atas, sebagaimana telah terjadi pada ahli kitab sebelumnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّـهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّـهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايٰتِ ٱللَّـهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.Q.S Ali Imran (3):112﴿

Hendaknya tiga ayat di atas benar-benar menjadi peringatan yang keras bagi siapa saja yang merasa dirinya beriman dan takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya, agar kembali kepada fitrah sebagaimana kita dilahirkan dalam keadaan yang suci lagi muslim.


Inilah Jalan Kembali Kepada Fitrah 


Untuk dapat kembali kepada fitrah kita sebagaimana kita dilahirkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada Al-Jama'ah dan meninggalkan setiap golongan yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan tidak juga pada masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin serta tidak ada perintahnya dari Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya setiap golongan yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah dan masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin adalah bid'ah dan setiap bid'ah pastilah tersesat (salah jalan) dan tidak akan pernah sampai kepada apa yang semestinya mereka tuju yaitu surga. Dan tidaklah seruan kepada golongan yang tidak ada perintahnya itu, kecuali ia hanya akan menjadi seruan jahiliyah atau seruan yang menyeru ke pintu-pintu jahanam. Adapun golongan yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya hanya satu saja yaitu Al-Jama'ah, sesuai dengan penjelasan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam berikut ini:

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, bersabda: “Aku perintahkan kepada kamu sekalian (Muslimin) lima perkara, sebagaimana Allah telah memerintahkan aku dengan lima perkara itu; bil-Jama’ah (dengan Al-Jama’ah), wa bisam’i (dan dengan mendengar), wa tho’at (dan taat), wal hijrah (dan hijrah), wal jihad ( dan jihad fi sabilillah). Barang siapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal saja, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (kedalam Al-Jama’ah). Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam neraka jahanam.” Para shahabat bertanya : “”Ya Rasulullah bagaimana jika mereka tetap shaum dan shalat?” Rasul bersabda : “Sekalipun ia shaum dan sholat dan mengaku dirinya muslim, maka panggilah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang telah Allah berikan kepada mereka; “Al-MusliminAl-Mukmininhamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla".” (H.R. Ahmad Bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad : IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa fi Matsalis Shalati wa Shiyami wa Shodaqoti :V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad)

Sungguh sangatlah jelas keterangan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis di atas, bahwa Al-Jama'ah itu adalah jama'ah yang diperintahkan oleh Allah, sehingga beliau dan para sahabatnya tentu telah mengamalkannya sebelum beliau memerintahkan kita untuk juga mengamalkan Al-Jama'ah yang telah diperintahkan oleh Allah tersebut.

Dalam hadis berikut ini, akan kita dapatkan keterangan yang tegas dan jelas yang manakah Al-Jama'ah yang diperintahkan itu:

Dari sahabat Khudzaifah bin Yaman radiyallahu anhu, ia berkata : “Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, karena aku khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka aku bertanya : “ Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan?" Rasulullah menjawab : “Benar!” aku bertanya : "Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan?" Rasulullah menjawab : “Benar tetapi didalamnya ada kekeruhan (dakhon / asap).” Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku (menurut riwayat muslim: “Kaum yang berperilaku bukan dari sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku), engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu aka ada lagi keburukan? Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang menyeru ke pintu-pintu jahanam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya kedalam jahanam itu.” Aku bertanya:”Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasulullah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah kita.” Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah bersabda: “Tetaplah pada Jama'ah Muslimin dan Imam mereka" Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh (golongan yang berpecah-belah) itu semuanya,walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjemputmu engkau tetap demikian.” (H.R. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dab Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah: II/475 Lafadz Al-Bukhari).

Berpegang kepada dua hadis Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di atas, maka Jama'ah Muslimin dan Imam mereka itu adalah Al-Jama'ah yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Maka kembalilah antum semua kepada golongan yang diperintahkan dan diamalkan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya yang hanya satu saja ini, yaitu Al-Jama'ah atau Jama'ah Muslimin dan Imam mereka. Inilah golongan yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu muslim, sebagaimana ketika kita semua dilahirkan dalam keadaan suci dan muslim.

Maka siapapun yang tetap berada di dalam Al-Jama'ah atau Jama'ah Muslimin dan Imam mereka hingga Allah mewafatkannya, sungguh pasti ia akan kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah sebagaimana ia dilahirkan sebagai Muslim

Itulah agama yang tegak dan hanif (lurus), awal kehidupan sebagai muslim, meniti kehidupan dalam Jama'ah Muslimin dan Imam mereka, sehingga akhir kehidupannya tetap sebagai muslim.

يٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim (beragama Islam).Q.S Ali Imran (3):102﴿

 وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.Q.S Ali Imran (3):103﴿.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Dan tidaklah kita dapat mencapai derajat takwa yang sebenar-benarnya, kecuali kita selalu berupaya untuk mengamalkan setiap perintah Allah dan RasulNya serta menjauhi setiap apa yang diharamkan oleh Allah dan dicegah oleh RasulNya dan mengamalkan Islam dalam satu ikatan jama'ah di bawah pimpinan Imam atau Khalifah. Siapapun yang tidak mengamalkan Islam dalam keadaan bersatu di dalam Al-Jama'ah, maka mereka telah terdorong ke tepi jurang neraka dengan sebab perpecahan yang telah mereka lakukan. Dan jika mereka menyeru, maka seruan mereka itulah hanyalah seruan jahiliyah atau seruan ke pintu-pintu jahanam.


Wahai Muslimin, Kembalilah Kepada Tuhanmu dan Bertaubatlah, dan Kembalilah Kepada Jalan Yang menuju Surga !

وَٱللَّـهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Q.S Yunus (10):25 ﴿

Penuhilah seruan Allah di atas wahai saudaraku muslimin sekalian!

Marilah kita bersama-sama dan bersatu (berjama'ah) mengamalkan aturan Islam yang fitrah dalam wadah Al-Jama'ah yang sesuai dengan fitrahnya yaitu Jama'ah Muslimin dan Imam mereka sebagaimana penjelasan kedua hadis di atas. Maka orang-orang yang telah mengamalkan perintah untuk bersatu (berjama'ah) dengan mengangkat seorang muslim menjadi Imam dengan syare'at bae'at, sesungguhnya mereka itu telah berpihak kepada Allah dan mereka itulah yang disebut oleh Allah sebagai Hizbullah.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّـهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رٰكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).Q.S Al Maidah (5):55﴿ 

وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَإِنَّ حِزْبَ ٱللَّـهِ هُمُ ٱلْغٰلِبُونَ

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya Hizbullah (pengikut agama Allah) itulah yang pasti menang.Q.S Al Maidah (5):56﴿

Inilah Al-Jama'ah itu, inilah Jama'ah Jama'ah Muslimin (Hizbullah) yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dan inilah jalan menuju surga itu, maka kembalilah kepada Al-Jama'ah wahai muslimin !

Dan janganlah antum semua saling cela mencela dengan panggilan yang buruk dan saling menjelek-jelekan satu sama lain dan merasa benarlah jalan sendiri dan menuduh jalan orang lain yang sesat sebagaimana perilaku ahlul kitab sebelum kita.

 يٰٓأَهْلَ ٱلْكِتٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوْرَىٰةُ وَٱلْإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعْدِهِۦٓ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?Q.S Ali Imran (3):65﴿

هٰٓأَنتُمْ هٰٓؤُلَآءِحٰجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ ۚ وَٱللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.Q.S Ali Imran (3):66﴿

 مَا كَانَ إِبْرٰهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.Q.S Ali Imran (3):67﴿


Inilah Jalan Menuju Surga Itu, Maka Kembalilah !


Seperti halnya Nabi Ibrahim 'alaihi salam yang bukan bagian dari golongan Yahudi ataupun Nasrani karena keduanya tidak ada pada masa Ibrahim 'alaihi salam, maka demikian pula golongan-golongan yang berpecah belah saat ini, maka bukanlah Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam itu bagian dari salah satu golongan-golongan yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah itu, kecuali Al-Jama'ah sehingga beliau memerintahkannya karena itulah golongan yang beliau dan para sahabatnya tetapi dan amalkan. Maka hentikanlah perdebatan kalian semua dan kembalillah kepada fitrah kita yang muslim dan bersatu (berjama'ah) lah dalam jama'ah yang fitrah ini yaitu Jama'ah Muslimin (Hizbullah) agar kita dapat bersama-sama menegakkan dinul Islam yang fitrah !

Renungkanlah seruan ini dengan hati yang bersih dan takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya sebelum adzab menimpa antum semua wahai saudaraku muslimin sekalian. Dan janganlah biarkan seruan ini berlalu sedangkan antum memahaminya.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتٰبَ مِنقَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.Q.S Al Hadiid (57):16 ﴿

Penulis : 

Ayi Hidayat Baharuddin

Memilih Seorang Khalifah Adalah Hak Allah



وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah (2):30).

Merujuk kepada surah Al-Baqarah ayat 30 di atas, maka Khalifah itu dipilih oleh Allah sesuai dengan arti daripada Khilafah itu sendiri yaitu "Penggganti Allah" di muka bumi. 

Oleh karena itu, adalah kewenangan Allah semata untuk memilih seorang Khalifah yang menjadi mandataris Nya di muka bumi agar Khalifah itu menegakkan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan bagi manusia di muka bumi ini.

Tegaknya hukum-hukum Allah itu jelas terkait dengan kekuasaan. Maka, kita tidak punya hak untuk mengambil sesuatu yang menjadi milik Allah hingga Allah sendiri yang memberikannya kepada kita.

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ali-Imraan (3):26).

Adapun para sahabat dapat memilih Khalifah sebagai pengganti Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang telah wafat adalah karena pada waktu itu khilafah itu memang telah tegak sebagai karunia dari Allah kepada Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam beserta para sahabatnya sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada mereka pada ayat berikut ini:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًۭا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًۭٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. An-Nuur (24):55).

Janji Allah pada ayat di atas, baru ditunaikan oleh Allah ketika Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya melaksanakan hijrah. Oleh karena itu, Rasulullah sholllallahu 'alaihi wasallam baru menjadi Khalifatullah setelah hijrah ke Madinah. Adapun saat masih di Mekah, beliau belum menjadi Khalifah, melainkan baru menjadi Imam bagi kaum muslimin yang ada pada masa itu, yaitau para sahabat semuanya.

Sesuai dengan penjelasan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam sendiri, setelah beliau wafat ternyata masa Khilafah 'ala minhajjin Nubuwah itu hanya tiga puluh tahun yaitu sejak dibai'atnya Khalifah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, hingga wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Setelah itu umat tidak lagi dipimpin oleh seorang Khalifah melainkan dipimpin oleh seorang sultan atau malik, sebab ternyata kepimpinan dan kekuasaan yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum muslimin telah diambil alih oleh sebuah dinasti yang kekuasaannya diwariskan secara turun temurun dan berganti-ganti dari satu dinasti ke dinasti yang lain. 

Itulah yang disebut masa mulkan. Akan tetapi, meskipun sistem kepemimpinan mulkan itu tidak mengikuti sunnah, namun saat itu umat Islam masih punya sentral kepemimpinan.

Adapun setelah Kesultanan Utsmaniyah Turki runtuh, maka umat Islam tidak lagi mempunyai sentral kepemimpinaan dan tidak lagi mewarisi kekuasaan yang telah Allah anugerahkan kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kekuasaan yang sekarang berlaku di dunia ini, bukanlah kekuasaan Khilafah yang telah Allah anugerahkan kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya, melainkan kekuasaan yang diwarisi dari para penjajah kolonial yang telah memecah belah kaum muslimin menjadi negara-negara demokrasi yang banyak. Itu sebabnya hukum Islam tidak dapat ditegakkan secara kaffah di muka bumi ini. 

Dengan demikian, para Persiden dan aparatur negara-negara yang ada di muka bumi saat ini, bukanlah ulil amri minkum sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah pada surah An Nisa ayat 59. Mengatakan bahwa Persiden dan aparatur negara yang diangkat melalui sistem pemerintahan yang tidak pernah diamalkan oleh para sahabat adalah ulil amri minkum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat tersebut, merupakan perkataan dusta atas nama Allah.

Jadi, keadaan kita saat ini telah kembali kepada asalnya, sebagaimana Islam itu pertama kali disampaikan oleh Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam saat masih di Mekah. Pada saat itu beliau hanyalah seorang Imam yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan sedikitpun sehingga tidak mampu untuk melindungi para sahabat yang dizalimi oleh kafirin Quraisy Mekah. Kondisi ini, telah dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam pada hadits berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, untuk menegakkan Islam sebagaimana yang Allah perintahkan dalam surah As-Syuraa ayat 13, maka kita harus memulainya dari awal kembali, yaitu dengan menetapi Al-Jama'ah atau Jama'ah Muslimin hingga Allah menunaikan kembali janji dalam surah An-Nuur ayat 55 itu kepada kita semua. 

Terwujudnya Al-Jama'ah atau Jama'ah Muslimin itu adalah dengan dibai'atnya seorang muslim menjadi Imam sebagaimana para sahabat membai'at Rasulullah shollallahu 'alaihi dalam peristiwa bai'atul Aqobah yang terjadi pada saat masih di Mekah.

Allah Al Musta'an, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin.

suurce:/
penulis, facebook:

Ayi Hidayat Baharuddin



KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWAH DARI INDONESIA BUKANLAH KHILAFAH ABAL-ABAL.



ko’ khilafah dari indonesia?

Ana akan sedikit mengulas lebih dalam tentang bukti-bukti yang telah nampak dan ada, bahwa khilafah memang benar adanya dari indonesia.

DALIL-DALIL YANG MENJADI DASAR RUJUKAN

Dari Ibnu Mas’ud, katanya : “ketika kami berada di sisi Rasulluah salallahu ‘alahi wasalam, tiba-tiba datang sekelompok anak-anak muda dari kalangan Ban Hasyim,Apabila terlihat akan mereka, maka kedua mata Rasulluah salallahu ‘alahi wasalam berlinang air mata dan wajah beliau berubah, Akupun bertanya :mengapakah kami melihat wajahmu yang kami tidak sukai?, Beliau menjawab: ”Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akherat lebih dari dunia, kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak, sampai datangnya suatu kaum dari #SEBELAHTIMUR  yang membawa bersama mereka panji-panji berwarna hitam…”“(dikeluarkan oleh Ibni Abi Syaibah dan Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan (H.R  Ibnu Majah dan Abu Nu’aim) (dari kitab Al Hawi lil fatawa oleh Imam Sayuti)
Dari Abdullah bin al-Haris bin Jaz-uz Zabidi RA katanya, sabda Nabi SAW, 
"Akan keluar orang-orang dari Timur, lalu mereka mempersiapkan untuk Imam Mahdi, yakni tapak pemerintahannya." (Ibnu Majah)

"Akan keluar dari sulbi ini (Sayidina Ali) seorang Putera yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Putera dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji al-Mahdi." (At-Tabrani)

Perhatikan kata-kata “dari sebelah timur” itu Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirilah yang mengatakan, namun jika ada orang yang menolak hadits tersebut perlu di pertanyakan imannya?.

Seperti yang ana pernah paparkan sebelumnya bahwa Dalam dunia Islam ada dua timur yaitu Timur Tengah dan Timur Jauh( Asia Tenggara), .di maksud dalam hadits adalah Timur Jauh (Asia Tenggara),meskipun tidak ada dalil satupun yang menjelaskan di mana tepatnya arah timur itu?, maka sayapun punya pendapat (ijtihad) bahwa yang di maksud timur itu adalah indonesia, dan saya akan menguraikan pernyataan saya


BANGSA INDONESIA ADALAH DI MANA UMAT ISLAM TERBANYAK

                Seperti yang kita tahu bahwa penduduk indonesia lebih dari 200 juta  jiwa, dan 88 % penduduknya muslim, dan saya sangat bersyukur ada yang melakukan penelitian bahwa islam indonesia itu turun, banyak yang murtad. Kita bersyukur ini adalah suatu proses penyaringan atau suatu seleksi alam, di sinilah di pilih orang-orang yang aqidah atau ngibadahnya mantap( bukan Cuma di ktp) atas peristiwa seleksi alam tersebut ternyata Allah menggantikan yang lebih baik orang-orang cerdas, ilmuan dan berpengaruh banyak yang masuk islam baik di Barat maupun di Eropa. Meskipun di kedua tempat itu islam berkembang pesat, tidak bisa mengalahkan perkembangan islam d Indonesia, dari orang timur tengah sendiri satu persatu orang islam disana dia mengungsi/hijrah ke negri yang aman seperti inonesia, akibat perang atau pertumpahan yang tak pernah ada akhirnya.

ISLAM INDONESIA UMAT ISLAM YANG PALING AHLI DALAM BERIBADAH

Tidak ada umat islam lain yang menandingi ibadah orang indonesia, kenapa Karena kebanyakan umat islam indonesia dia beribadah sudah tidak seperti umat islam lainnya, seperti di Saudi Arabia. Di indonesia dia sudah banyak mengarang ritual peribadahan sendiri yang tidak ada tuntunanya dari Rasulullah, jelas peribadatanya menyaingi ibadah Rasullullah dan umat yang lainya.(soal ini penulis tidak akan membahas panjang lebar)

 Indonesia bangsa yang menonjol dalam pengamalan islamnya, secara fisik di sini termasuk aman tidak pernah terjadi kontak senjata (perang islam dengan islam, maupun islam dengan orang kafir). Berbeda dengan sebelah timur (Timur Tengah) negara yang penuh dengan konflik, pertumpahan darah, semakin hari bukannya semakin membaik malah semakin memanas, yang terjadi di Indonesia adalah perang Dalil atau perang pemikiran. Dan dari sinilah yang akan memaksa untuk lebih berpikir dan memahami dalil untuk kepentingan perang dalil (debat) dan jelas untuk mencari yang Haq dan yang pada akhirnya yang bathil dapat di kalahkan dan tunduk kepada Al quran dan As sunah. Sebagaimana umat islam awam yang tunduk kepada Kyai,nya. kalo seperti ini maka hal kebaikan (Khilafah) di wujudkan .

SOLIADRITAS DAN PERSATUAN INDONESIA MENGALAHKAN ORANG QURAISY JAMAN DULU.
                Sering kita dengar jika orang malaysia bikin masalah sedikit warga indonesia langsung melakukan berbagai aksi caci maki dll untuk mempertahankan dirinya.solidaritas terbentuk juga dalam berbagai macam gerakan yang lain, bangsa indonesia merdeka karena persatuan,
 Keadaan ini sama dan terwujud pada umat islam itu sendiri, ketika perang Gaza membara, dan banyak membutuhkan bantuan, dari indonesialah yang banyak lebih peduli dengan saudara yang jauh di sana, dengan menggalang apa yang di butuhkan dan terutama  dana di mana saja seperti di jalan-jalan, meskipun umat islam sendiri disini tersekat-sekat oleh organisasi-organisasi islam, seperti orang quraisy jaman dahulu meskipun mereka berkabilah-kabilah namun kerja sama yang mereka lakukan sangat solid, tidak seperti sekarang ini orang-orang quarais sudah berbeda sedikit demi sedikit. Dan yang lebih bisa di rasakan lagi ketika sekarang sebagian umat islam di Indonesia hidup di bawah pimpinan Imamul Muslimin, di situ akan sangat terasa, meskipun berada di suatu wilayah kita tidak punya sanak saudara sedarah, namun akan terasa aman dan tidak lagi merasa sendiri sangat terasa persaudaraannya.

DI TETAPINYA KHILAFAH ISLAMIYAH SETELAH RUNTUHNYA  KHILAFAH USTMANIYAH

                Setelah khilafah Ustmaniyah runtuh umat islam setelah itu tidak lagi mempunyai central kepemimpinan beberapa tahun, di situlah umat islam berceri berai. Dan hanya dari indonesialah yang berjuang bagaimana umat islam sendiri agar tetap utuh dan bersatu di bawah central kepemimpinan yaitu adanya khalifah.
Pejuang islam sangat tahu bagaimana islam bisa berjalan sebagaimana mestinya, seperti perkataan Umar bin Khathtab “sesungguhnya tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, dan tiada jama’ah kecuali dengan Imarah..”
Atas dasar ini dan dalil-dalil lainnya yang sudah tidak bisa di bantah bahwa menegakan khilafah adalah suatu kewajiban, maka pada tahun-tahun ketika kekhilafahan kosong, banyak juga dari berbagai negara membuat gerakan-gerakan, namun gerakn tersebut tidak bisa menyatukan umat islam yang sudah kadung terpecah belah, maka berpikirlah ulama-ulama indonesia bagaimana caranya menyatukan umat islam, maka tidak sedikit ulama yang masuk kedalam jalur parlemen lewat kanca politik, namun sebagian ulama lainya menyadari bahwa cara menyatukan umat islam bukanlah lewat jalur politik. Dengan berjalannya waktu akhirnya ulama indonesia ketika waktu itu mengadakan berbagai muktamar dan konggres atau rapat para ulama beberapa kali dalam rangka penyatuan umat islam, dan Alhamdulillah pada akhirnya tanggal 10 Dzulhijah 1372 H . (20 Agustus 1953 M) di tetapilah Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Jama’ah Muslimin adalah sebagai bentuk wadah umat islam dan khilafahlah yang menjadi sebagai sistemnya,yaitu  dengan  di bai’atnya Wali Al Fatah.

                Setelah selang beberapa waktu di adakanlah pencarian di seluruh dunia untuk mencari apa ada yang sudah dulu menegakan khilafah, pencarian tersebut lebih dari 10 tahun namun sama sekali tidak menemukan dalam bentuk jamaah dan imamah, jadi Jamaah Muslimin adalah Kekhilafahan yang pertama, adapun ada beberapa lagi di indonesia yang mengaku-ngaku mendeklarasikan khilafah lagi, jelas khilafahnya batil, tidak sah, karena sudah ada dulu khilafah yang di tegakan. Dan anehnya lagi orang yang mendeklarsikan khilafah adalah orang yang dahulu berbi’at kepada Wali Al Fatah,
 sebagaimana hadts
“jika di bai’at dua khalifah dalam satu masa, maka penggalah lehernya siapapun dia”
{dan perlu di pahami kata-kata “penggalah lehernya” mempunyai makna yang lain, seperti bahwa khilafahnya tidak sah, bisa juga di artikan secara dzahir “penggalah lehernya” berarti bahwa dia harus di bunuh (karena memecah belah umat), dalam memahami Al-qur’an atau hadits tidak asal srampangan, dalam bahasa arab itu karena adakalanya maknanya tidak sesuai kontek teknya}


PERJUANGAN PERGERAKAN KHILAFAH JAMA’AH MUSLIMIN

                Sudah menjadi sunatullah setiap orang yang menyampaikan kebenaran di tentang. Begitu juga dengan jama’ah ini tidak terlepas dari  pertentangan dan fitnah.
(Sekilas perjuangan yang sedang berjalan saat ini )Akan Dibangunnya masjid nubuwah di lampung yang dahulu menjadi pusat dan awal perjuangan untuk memantapkan Aqidah di situ di bangun pula pusat pendidikan berbasis pesantren yang hingga kini melesat laksana roket, karena pesantren tersebut sudah banyak tersebar di indonesia, dari pesantren inilah terbentuk para mujahid untuk mengawal berjalannya  khilafah di Indonesia. Seperti yang di ucapkan Zulkifli Hasan (ketua MPR) yang berkunjung ketika peresmian pembangunan masjid nububawah mengatakan “dari sinilah peradabaan, kejayaan islam akan di mulai kembali”, seperti yang kita ketahui di sumateralah yang dahulu menjadi pusat kejayaan agama hindu. Nah sekarang tidaklah mustahil akan berganti menjadi bukti kejayaan islam dari Sumatera, dari Indonesia yang pada akhirnya akan mengntarkan kepada kekhilafahan Imam Mahdi


KHILAFAH LAINYA DARI INDONESIA

Hanya di indonesialah negri yang termasuk aman tidak ada yang menghalangi-halangi pergerakan islam oleh orang-orang kafir, Amerika Serikat, maupun Zionis tidak seperti negara islam di Timur Tengah, satu persatu negara islam di fitnah di inflasi oleh negara kafir  USA , seperti yang kita lihat di Irak dan Syam ada sekelompok orang yang menegakan hukum Allah di bom, hancurkan dan bahkan ada negara islam yang telah bersekutu dengan Amerika untuk menghancurkan negara yang mengaku-ngaku khilafah. seperti Saudi Arabia, karena Saudilah termasuk negara yang membangkang dan ikut serta dalam meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah, sekarang kita lihat dan dengar ketika ada orang berdakwah menyeru khilafah di Saudi pasti akan di tangkap karena secara otomatis jika khilafah tegak sistem kerajaan akan terhapuskan, makanya sang raja sangat takut akan hal itu, di Saudi sendiri setiap ada Ulama yang tidak sependapat dengan kerajaan tidak segan-segan di cap Khawarij (cotoh:Syaik Usama bin Laden) jadi negara islam Timur Tengah  sekarang tidak bisa di andalkan, karena musuh selalu mendampinginya, di indonesialah khilafah bisa berjalan yang insyaAllah akan mencapai pusat kejayaan, sekarang di indonesia sudah ada beberpa khilafah seperti

Islam Jama’ah (LDII)  yang di ketuai Nurhasan dan sempat akan dibasmi oleh pemerintah usai pelarangan oleh Jaksa Agung pada 1971, Nurhasan inilah yang dahulu membelot atau pernah menetapi Jama’ah Muslimin serta berbai’at kepada wali Al Fatah.
Khilafatul Muslimin didirikan sejak tahun 1997 M atau 1418 H.Khalifah dari Khilafatul Muslimin bernama Abdul Qadir Hasan Baraja
Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dengan di bai’atnya Wali Al Fatah pada 10 Dzulhijah 1372 H/20 Agustus 1953 M

                Oleh karena, saat ini "umat Islam" sudah mempunyai 3 khilafah dari indonesia, dan jika memang khilafah itu benar dari indonesia, jelas dong khilafah yang pertama kali dirikan yang  lebih berhak untuk di tetapi, adapun khilafah yang sesudahnya adalah batil, jadi sangat lucu sekali ada  tiga khilafah dalam satu masa.
-Isis..
-Jama’ah Muslimin di tetapi tahun 1953
-Islam Jama’ah ????
-Khilafatul Muslimin berdiri sejak 1997,(di tetapi setelah Jama’ah Muslimin, karena yang menjadi khalifahnya dahulu pernah berbai’at kepada khalifah jama’ah Muslimin)

                Jadi khilafah yang paling pertama adalah Jama’ah Muslimin Hizbullah. Atas dasar inilah tidak di ragukan jika ada khilafah  muncul dari indonesia tidaklah mustahil, dan insyaAllah khilafah ke tiga tersebut kemungkinan besar akan menjadi satu menetapi Jama’ah Muslimin Hizbullah, karena Jamaah Muslimin Hizbullah adalah khilafah yang paling pertama, tidak menutup kemungkinan khilafah yang dari indonesialah akan mengantarkan kejayaan islam sampai pusat kekhilafahan Imam Mahdi yang Allah janjikan dengan segala kemakmuran, kesejahteraan, keadilan di saat nanti. Amiin

HAKIKAT AL-JAMA'AH 1



PERPECAHAN UMMAT SEBUAH HAL YANG PASTI TERJADI

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan masuk syurga  dan tujuh puluh golongan masuk  ke dalam neraka, dan orang-orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk ke dalam neraka sedangkan yang satu masuk syurga. Demi Dzat yang diri Muhammad ada di genggaman-Nya, niscaya umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, maka yang satu golongan masuk ke dalam surga sedang yang tujuh puluh dua golongan masuk ke dalam neraka, ditanyakan kepada Rasulullah: “Siapakah mereka itu (golongan yang masuk ke dalam syurga)? Beliau bersabda: “Al-Jama’ah.” (H.R. Ibnu Majah dari Auf bin Malik, Sunan Ibnu Majah dalam Kitabul Fitan: II/479 dan At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi:V/2641, Lafadz Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain, ketika Rasulullah menjawab: “Al-Jama’ah”  para sahabat bertanya: "Apakah Al-Jama'ah itu?" Beliau menjawab : "Apa yang aku dan para sahabatku ada di dalamnya."

Ketika umat Yahudi terpecah kepada 71 golongan, hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang mengikuti Isa Al-Masih. Dan ketika Umat Nasrani terpecah kepada 72 golongan, hanya satu golongan yang selamat, yaitu yang mengikuti nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasalam atau mereka yang masuk Islam dari kalangan umat Nasrani dan juga Yahudi. Maka ketika ummat nabi Muhammad ini terpecah, hanya satu golongan saja yang selamat yaitu Al-Jama'ah.

Dengan adanya hadis tentang perpecahan ummat ini, maka yang perlu kita bahas bukanlah yang 72 golongan. Karena selain ia sangat banyak dan hanya akan terjadi saling menuduh diantara sesama muslimin, melainkan juga kita tidak akan tahu yang mana golongan yang binasa jika kita tidak tahu mana golongan yang selamat. 

Mengapa yang selamat hanya satu golongan saja?

Tidak lain karena jalan menuju syurga itu hanya satu dan Allah memang telah memerintahkan kita untuk bersatu dalam menegakkan Islam serta mengharamkan perpecahan diantara umat-Nya. Oleh karena itu, marilah kita kaji golongan yang selamat itu dengan hati yang bersih dan mengharapkan rahmat Allah semata.

MAKNA AL-JAMA'AH

Kembali kepada penjelasan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam: "Apa yang aku dan para sahabatku ada di dalamnya.", yang merupakan jawaban atas pertanyaan sahabat: "Apakah Al-Jama’ah itu?”. Kata "apa" dalam hadis tersebut adalah terjemahan dari kata "ما". Dalam kaidah bahasa  Arab, kata "ما" ini disebut isim maushul (إسم موصول) atau "kata bersambung" yaitu satu kata yang tidak bisa berdiri sendiri dan bersambung dengan sesuatu yang sedang dibicarakan. Oleh karena yang sedang dibicarakannya itu adalah Al-Jama'ah, maka kata "apa" ( "ما") dalam hadis tersebut mewakili atau menggantikan kata Al-Jama'ah. Adapun menurut bahasa, "Al-Jama'ah" (الجماعة) itu adalah bentuk mar'rifat/definitif /tertentu dari kata "Jama'ah" (جماعة) yang artinya adalah: "kumpulan" (community).

Dengan demikian, maka makna Al-Jama'ah (الجماعة) yang sebenarnya tidak akan terlepas dari makna "Jama'ah" (kumpulan). Oleh karena itu, apa yang dijelaskan oleh Rasulullah itu maknanya adalah: Jama'ah  (kumpulan) yang Rasulullah dan para sahabatnya ada di dalamnya atau di dalam Al-Jama'ah itu, pada saat beliau menjelaskan hadis tersebut. Artinya, Al-Jama'ah itu telah ada pada masa Rasulullah dan para sahabat.  Dengan kata lain, Al-Jama’ah itu adalah Jama’ah Rasulullah dan para sahabatnya. Dengan ini maka menjadi isyarat, bahwa jama’ah-jama’ah yang tidak ada pada masa Rasulullah itu adalah baru dan bukan Al-Jama’ah. Meskipun mereka menarik-narik dalil-dalil tentang Al-Jama’ah.

Akan menjadi lebih jelas makna Al-Jama’ah jika kita merujuk kepada pernyataan Khalifah Umar bin Khattab berikut ini :

Khalifah Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya tidak ada Islam Kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada Jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ditaati." (H.R Ad-Darimi Sunan Ad–Darimi dalam bab Dzihabul I’lmi: I/79).

Dengan merujuk kepada atsar Khalifah Umar bin Khatab radiyallahu anhu tersebut, maka menjadi semakin jelas bahwa Al-Jama'ah itu adalah jama'ah yang menjadi wujud bangunan Islam. Apa yang dikatakan oleh Khalifah Umar bin Khattab itu ternyata merupakan kesimpulan dari hadis Rasulullah berikut ini :

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 

“Aku perintahkan kepada kamu sekalian (Muslimin) lima perkara, sebagaimana Allah telah memerintahkan aku dengan lima perkara itu; bil-Jama’ah (dengan Al-Jama’ah), wa bisam’i (dan dengan mendengar), wa tho’at (dan taat), wal hijrah (dan hijrah), wal jihad ( dan jihad fi sabilillah). Barang siapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal saja, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (kedalam Al-Jama’ah). Dan barang siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyyah, maka ia termasuk golongan orang yang bertekuk lutut dalam neraka jahanam.” 

Para shahabat bertanya : “”Ya Rasulullah bagaimana jika mereka tetap shaum dan shalat?” 

Rasulullahu shollallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Sekalipun ia shaum dan sholat dan mengaku dirinya muslim, maka panggilah oleh orang-orang muslim itu dengan nama yang telah Allah berikan kepada mereka; “Al-Muslimin, Al-Mukminin, hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla".

(H.R. Ahmad Bin Hambal dari Haris Al-Asy’ari, Musnad Ahmad : IV/202, At-Tirmidzi Sunan At-Tirmidzi Kitabul Amtsal, bab Maa Jaa fi Matsalis Shalati wa Shiyami wa Shodaqoti :V/148-149 No.2263. Lafadz Ahmad)

AL-JAMA'AH ADALAH JALAN KELUAR DARI PERPECAHAN UMMAT

Kesimpulan daripada hadis di atas, maka persoalan Al-Jama’ah adalah persoalan yang penting bagi ummat Islam untuk diperhatikan, karena ia merupakan wujud bangunan Islam dan yang mengikat kita di dalam Islam. Akan tetapi, kita tidak dapat mengetahui dengan pasti yang manakah Al-Jama’ah jika hanya berpegang kepada hadis-hadis di atas saja. Masih ada hadis lain yang kita perlukan untuk menjelaskan secara detail yang manakah Al-Jama’ah yang sebenarnya itu?

Jawaban dari pertanyaan itu, ternyata terdapat dalam sebuah hadis yang panjang dari sahabat Khudzaifah bin Yaman yang dikenal banyak menyimpan Rahasia dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita simak hadisnya berikut ini :

Dari sahabat Khudzaifah bin Yaman radiyallahu anhu, ia berkata : “Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan dan adalah aku bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, karena aku khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka aku bertanya : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? 
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab : “Benar!” 

Aku bertanya : Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan?

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallammenjawab : “Benar tetapi didalamnya ada kekeruhan (dakhon / asap).” 
Aku bertanya: 'Apakah kekeruhannya itu?”

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku (menurut riwayat muslim: “Kaum yang berperilaku bukan dari sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku), engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” 

Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu aka ada lagi keburukan? 

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang menyeru ke pintu-pintu jahanam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya kedalam jahanam itu.” 

Aku bertanya:”Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” 

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah kita.” 

Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” 

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: “TETAPLAH PADA JAMA’AH MUSLIMIN DAN IMAAM MEREKA.” 

Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaam?” 

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallambersabda: “ Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh (golongan yang berpecah-belah) itu semuanya,walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjemputmu engkau tetap demikian.” 

(H.R. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dab Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah: II/475 Lafadz Al-Bukhari)

Hadis dari sahabat Khudzaifah bin Yaman di atas adalah kunci persoalan kita saat ini dan terdapat padanya jawaban yang jelas atas persoalan yang menyangkut kaum muslimin dan Al-Jama’ah saat ini. Dalam hadis tersebut sebenarnya terdapat ikhtisar (ringkasan) sejarah yang dialami oleh kaum muslimin dari sejak masa sebelum Islam hingga menjelang hari kiamat nanti. Dalam hadis tersebut di atas, terdapat satu jawaban yang tegas dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pertanyaan sahabat Khudzaifah bin Yaman radiyallahu anhu yang tidak dapat membedakan mana penyeru ke pintu Jahanam dan mana yang menyeru ke pintu syurga karena ternyata mereka kulitnya sama yaitu sama-sama muslim dan sama-sama membacakan Al-Quran dan hadis atau perkataan Rasulullah shollallahu 'alaihi wassalam.


Jawaban dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas yaitu: “TETAPLAH PADA JAMA’AH MUSLIMIN DAN IMAAM MEREKA”. Ini menunjukkan bahwa Jama’ah muslimin inilah yang disebut Al-Jama’ah oleh Rasulullah dalam hadis tentang perpecahan ummat tersebut. Perbedaannya, jika hadis tentang perpecahan ummat itu menjelaskan keadaan ummat di akhirat nanti, sementara hadis Khudzaifah bin Yaman ini menjelaskan keadaan ummat Islam sekarang di dunia sehingga masih ada kesempatan untuk menjauhkan diri dari penyeru-penyeru ke pintu Jahanam dengan menetapi Jama’ah Muslimin seperti yang beliau perintahkan dalam hadis dari Khudzaifah bin Yaman tersebut.

Marilah kita bahas persoalan ini dengan hati-hati dan dengan ke-ikhlasan serta takut kepada Allah dan hanya mengharapkan rahmat dan karunia-Nya semata agar kita selamat dari perpecahan ummat di dunia ini, dan selamat dari adzab api neraka dikhirat nanti, sebagaimana yang telah diperingatkan bagi kita jika kita tetap dalam perpecahan

Wallahu ‘alam